Stories From the Field by Our Volunteer Rindiani

Rindiani Assist the local people in drawing in art sessions for adult on International Day of Education

Let’s get to know the Little Fireface Project volunteers. Her name is Rindiani Dwi Purnama. He comes from Bandung. Rindiani participated in volunteer activities for 6 weeks on the Little Fireface Project. Let’s see what Rindiani feels while volunteering at the Little Fireface Project.

Initially, I participated in volunteer activities at LFP because one of my friends was accepted as a staff. He invited me to participate in volunteer activities. I enjoyed participating in conservation activities and was interested in the slow lorises and the LFP program itself.

 The first activity I participated in was celebrating international education day. I contributed to help with the preparation and represented the university in one of the events. The event was attended by many people ranging from students to entrepreneurs. This activity aims to introduce LFP itself, introduce other conservation institutions, invite younger students to continue their education to the university level, teach entrepreneurship, and, most importantly, maintain the balance of nature.

Bait trap one of the activity that Rindi did in LFP

The next activity is observing the daily activities of the Javan slow loris in the wild. These observations are very different from what I have done while working in the field. These observations were carried out at night because the slow lorises are active animals at night. It is a challenge, where usually the night is resting time, but when doing OBS slow lorises in LFP, I do it at night. The smaller size of the slow loris and its slower but silent (silent) movement than other primates also become a challenge for us to focus more on the existence and activities of the slow loris. The slow lorises that I and LFP observed wore a collar that could be located with the help of an antenna and receiver when the frequency was set. One of the most valuable pieces of knowledge is that I was taught to use binoculars at night.

Apart from seeing the slow lorises directly (eating, playing, sleeping), there is an activity that I am most looking forward to, namely, Capture the observed slow loris. The capture activity was carried out by catching the slow lorises to check the installed collars, studying the development and health of the slow lorises, and putting the collars on the newly mated slow lorises from the previously observed slow lorises. I could see firsthand the morphology and response of the slow loris to threats. It turns out that the slow loris has poison in its armpits, which if it licks it then bites when threatened can render it unconscious for some time after being bitten. Of course, capture is carried out by experts in their fields and with special equipment

International Day of Education is the first activity Rindiani joined since she volunteering in LFP

Did I also do activities at the night?

 

The answer is NO. There are also lots of activities we can do during the day such as bait traps, camera traps, slow loris sleeping sites, bird watching, and socialization.

  1. Bait trap gives the bait in the form of bananas to the snare to observe the civet. The snares used are safe and do not harm civets or other animals because there are settings when trapping the civet. We observed civets’ activity with a camera trap installed around the trap to see it. The camera traps also observed slow lorises in trees.
  2. Sleep site activities are found and marking the slow loris where are the slow lorises sleep during the day.
  3. Bird watching is an activity to observe the diversity of birds around the foothills of the Papandayan Mountains.
  4. The next activity is socialization, which is an activity that is attended by the entire LFP team, including volunteers to strengthen the relationship.

Chilling Time!!

LFP works closely with local coffee farmers to create environmentally friendly coffee. LFP appreciates Blessing coffee and Waluya coffee in every activity. The coffee produced is of high quality and has a taste that the connoisseurs like. I spend my free time drinking a cup of coffee with both of the LFP coffee partners. There are artists around Cipaganti Village and exploring with LFP, we called Amank.  Amank utilizes and recycles wood to make carvings or other crafts. Amank also uses materials such as environmentally friendly paint in every use.

Those are some of the activities that I participated in for 6 weeks as a volunteer at the Little Fireface Project. I am very happy for the entire LFP team and other institutions concerned and guiding me well. It is an exceptional experience to meet and exchange stories and experiences with great people. Once again, I thank you for all the support and guidance. I also provided a lot of help if I neglected to do my assignments while volunteering. Good to see you again next time!!!

Team sosialisasi is doing an activity together for make strengthen feelings in each other

Mari berkenalan dengan relawan Little Fireface Project. Namanya Rindiani Dwi Purnama. Dia berasal dari Bandung. Rindiani mengikuti kegiatan volunteer selama 6 minggu di Little Fireface Project. Mari kita lihat apa yang dirasakan Rindiani saat menjadi sukarelawan di Little Fireface Project.

Awalnya saya mengikuti kegiatan volunteer di LFP karena salah satu teman saya diterima sebagai staf. Dia mengundang saya untuk berpartisipasi dalam kegiatan sukarela. Saya sangat menikmati mengikuti kegiatan konservasi dan tertarik dengan kukang dan program LFP itu sendiri.

Kegiatan pertama yang saya ikuti adalah merayakan hari pendidikan internasional. Saya berkontribusi untuk membantu persiapan dan mewakili universitas di salah satu acara. Acara ini dihadiri banyak orang mulai dari mahasiswa hingga pengusaha. Kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan LFP sendiri, mengenalkan lembaga konservasi lainnya, mengajak mahasiswa yang lebih muda untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat universitas, mengajarkan kewirausahaan, dan yang terpenting menjaga keseimbangan alam.
Kegiatan selanjutnya adalah mengamati aktivitas harian kukang jawa di alam bebas. Pengamatan ini sangat berbeda dengan apa yang saya lakukan selama bekerja di lapangan. Pengamatan ini dilakukan pada malam hari karena kukang merupakan hewan yang aktif pada malam hari. Sebuah tantangan, dimana biasanya malam hari adalah waktu istirahat, namun ketika melakukan OBS (Observasi) kukang di LFP, saya melakukannya pada malam hari. Ukuran kukang yang kecil dan pergerakannya yang lebih lambat namun senyap (silent) dibandingkan primata lainnya juga menjadi tantangan bagi kita untuk lebih fokus pada keberadaan dan aktivitas kukang. Kukang yang saya amati dan LFP amati memakai kalung yang dapat ditemukan dengan bantuan antena dan penerima saat frekuensi disetel. Salah satu ilmu yang paling berharga adalah saya diajari menggunakan teropong di malam hari.

Selain melihat kukang secara langsung (makan, bermain, tidur), ada kegiatan yang paling saya nantikan yaitu Menangkap kukang yang diamati. Kegiatan penangkapan dilakukan dengan cara menangkap kukang untuk dilakukan pengecekan kerah yang terpasang, mempelajari perkembangan dan kesehatan kukang, dan memasang kalung pada kukang yang baru dikawinkan dari hasil pengamatan kukang sebelumnya. Saya bisa melihat langsung morfologi dan respon kukang terhadap ancaman. Ternyata kukang memiliki racun di ketiaknya, yang jika dijilat kemudian digigit saat terancam bisa membuatnya pingsan beberapa saat setelah digigit. Tentunya penangkapan dilakukan oleh para ahli di bidangnya dan dengan peralatan khusus

Apakah saya juga melakukan aktivitas di malam hari?

Jawabannya adalah tidak. Ada juga banyak aktivitas yang bisa kita lakukan di siang hari seperti perangkap umpan, perangkap kamera, mencari tempat tidur kukang, mengamati burung, dan sosialisasi.
1. Umpan perangkap memberikan umpan berupa pisang ke perangkap untuk mengamati musang. Jerat yang digunakan aman dan tidak membahayakan musang atau hewan lainnya karena ada pengaturan saat menjebak musang. Kami mengamati aktivitas musang dengan kamera trap yang dipasang di sekitar perangkap untuk melihatnya. Kamera trap juga mengamati kukang di pepohonan.
2. Kegiatan tempat tidur adalah mencari dan menandai kukang dimana kukang tidur pada siang hari.
3. Bird Watching adalah kegiatan mengamati keanekaragaman burung di sekitar kaki gunung Papandayan.
4. Kegiatan selanjutnya adalah sosialisasi, yaitu kegiatan yang diikuti oleh seluruh tim LFP termasuk para relawan untuk mempererat tali silaturahmi.

Waktu istirahat!!

LFP bekerja sama dengan petani kopi lokal untuk menciptakan kopi yang ramah lingkungan. LFP mengapresiasi kopi Blessing dan kopi Waluya dalam setiap aktivitasnya. Kopi yang dihasilkan berkualitas tinggi dan memiliki cita rasa yang disukai para penikmatnya. Saya menghabiskan waktu luang saya minum secangkir kopi dengan kedua mitra kopi LFP. Ada seniman di sekitar Desa Cipaganti dan menjelajah bersama LFP, kami sebut Amank. Amank memanfaatkan dan mendaur ulang kayu untuk membuat ukiran atau kerajinan lainnya. Amank juga menggunakan bahan seperti cat ramah lingkungan dalam setiap penggunaan.

Itulah beberapa kegiatan yang saya ikuti selama 6 minggu sebagai volunteer di Little Fireface Project. Saya sangat senang untuk seluruh tim LFP dan institusi lain yang terkait dan membimbing saya dengan baik. Merupakan pengalaman yang luar biasa untuk bertemu dan bertukar cerita dan pengalaman dengan orang-orang hebat. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih atas segala dukungan dan bimbingannya. Saya juga memberikan banyak bantuan jika saya lalai mengerjakan tugas saya saat menjadi sukarelawan. Senang bertemu denganmu lagi lain kali!!!