Tahukah kalian, kemampuan satwa untuk dapat menavigasi wilayah jelajahnya untuk mencari sumber daya penting merupakan aspek utama dari ekologinya lho! Pada kukang Jawa, ditemukan bahwa semua individu menggunakan empat spesies pohon saat makan dan mencari makan. Kukang juga menunjukkan tingkat tumpang tindih rute yang tiggi , yang menunjukkan bahwa mereka kemungkinan besar menggunakan peta kognitif yang berdasar pada rute dimana titik acuan tertentu merupakan bagian penting dari pegerakan malam mereka!
Berarti mereka punya peta khusus yang mereka ingat ya?
Yap! Studi tentang memori spasial dan pencarian makanan yang dilakukan di seluruh taksa primata menunjukkan bahwa peta berbasis rute adalah bentuk peta kognitif yang paling banyak digunakan. Berdasarkan seringnya kukang Jawa menggunakan pohon penghasil getah dan nektar, dapat dilihat bahwa perjalanan menuju lokasi makan merupakan aspek penting dari pergerakan malam mereka. Kukang Jawa menggunakan rute dengan radius terpendek dari semua simulasi rute, sehingga tidak mungkin mereka menggunakan rute acak untuk mencapai lokasi tujuan secara rutin, tapi sebaliknya menunjukkan karakteristik peta kognitif berbasis rute untuk mencapai sumber daya yang jauh dan tidak terlihat.
Apa saja faktor yang berpengaruh terhadap cara bergerak kukang?
Di antara seluruh spesies primata, termasuk spesies kecil nokturnal yang berkelompok besar, penyebaran dari pohon pakan juga membentuk cara bergerak individu dan kelompok. Getah pohon adalah makanan utama bagi kukang. Untuk mendapatkan getah pohon, mereka perlu membuat lubang dan menunggu pohon memperbaiki luka dengan menghasilkan getah yang diinginkan. Mengingat sifat sumber daya penting ini, kecil kemungkinan kukang memantau sumber makanan melalui isyarat visual atau penciuman dengan cara yang sama seperti satwa pemakan buah. Metode paling masuk akal yang digunakan kukang untuk mengunjungi kembali pohon penghasil getah dan lokasi penting lainnya adalah dengan mengandalkan memori spasial mereka. Fakta bahwa mereka mengunjungi kembali lebih dari setengah pohon unik dalam wilayah jelajah mereka semakin mendukung teori penggunaan memori spasial mereka saat mencari makan, seperti yang terlihat pada satwa lain.
Adanya perubahan arah yang berkaitan dengan sumber daya yang dituju menunjukkan bahwa kukang Jawa menggunakan kemampuan lanskap struktural mereka untuk memperkuat keputusan saat perjalanan.
Ada implikasi untuk translokasinya?
Tentu ada! Semua jenis kukang terancam populasinya secara global, termasuk kukang Jawa yang terancam kritis, dengan ancaman utama yakni perdagangan satwa liar ilegal. Bagi yang berhasil disita, mereka secara teratur dipindahkan ke dalam dan luar jangkauan wilayah jelajah aslinya. Jika kukang Jawa telah membangun peta kognitif dari lingkungan mereka berdasarkan lokasi dari sumber daya utama, mengkarakterisasi penyebaran sumber daya perlu menjadi komponen penting saat merencanakan translokasi. Ditambah lagi, membangun peta kogitif memerlukan waktu. Karena keberhasilan pasca-rilis bergantung pada ketahanan hidup dalam kurun waktu tertentu, kita harus mempertimbangkan jangka waktu yang dibutuhkan bagi suatu spesies untuk membiasakan diri dengan lingkungannya.
Kualitas habitat merupakan hal penting dari berhasilnya proses translokasi. Jadi, tidak hanya kita harus menilai secara menyeluruh keberadaan vegetasi penting di lokasi rilis potensial, tetapi juga mengukur distribusi spasial dan kepadatan sumber daya utama.
Menarik sekali bukan? Keren ya, kukang Jawa seperti punya Google Map dalam pikiran mereka!
Referensi:
